Membangun Ketahanan Nelayan Melalui Adaptasi Perubahan Iklim

access_timeApr 04, 2019
Memperingati Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada tanggal 6 April 2019

Berbicara tentang nelayan tentu mengingatkan bahwa negara kita adalah negara maritim. Pada tahun 2017, data KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) mencatat bahwa nelayan kita mampu menghasilkan tangkapan ikan di laut sejumlah 6.424.114 ton. Selain itu, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap – KKP juga mencatatkan di BPS bahwa ada peningkatan jumlah rumah tangga nelayan untuk perikanan laut dari tahun 2000 sejumlah 475.392 menjadi 683.249 di tahun 2016. Ironisnya, masyarakat nelayan hingga saat ini masih tergolong ke dalam masyarakat berpenghasilan rendah.

Sebagai nelayan, kapal merupakan prioritas utama untuk memenuhi mata pencahariannya sehari-hari. Namun mayoritas nelayan kita masih menggunakan kapal berkapasitas rendah dengan kondisi yang memprihatinkan. Beberapa bantuan dan dukungan pemerintah telah dilakukan seperti bantuan kapal, memfasilitasi permodalan, dan convertor kit tabung gas untuk membantu menambah jangkauan nelayan yang masih menggunakan kapal tradisional.

Selain itu, kondisi iklim laut di Indonesia ke depannya patut diperhatikan untuk menjaga dan meningkatkan keselamatan pelayaran nelayan. Berdasarkan data Kaji Ulang RAN-API 2018, iklim laut di Indonesia akan mengalami perubahan dimana dirpoyeksikan penurunan luas zona keselamatan pelayaran bagi kapal kurang dari 10 GT (Gross Tonnage) selama 2020-2045, yang notebene kapal dengan kapasitas tersebut merupakan nelayan-nelayan kecil. Melalui hasil kajian tersebut disimpulan bahwa penurunan zona keselamatan tersebut merupakan dampak dari naiknya tinggi gelombang di sebagian besar wilayah perairan di Indonesia.

Wilayah yang dapat mengakomodasi kapal kurang dari 10 GT adalah perairan dengan tinggi gelombang minimum yaitu di bawah 0,5 m yang umumnya berada tidak jauh dari pantai/daratan (Gambar 1). Jika kapal berkapasitas rendah ini melaju hingga ke wilayah bergelombang lebih tinggi (0,5 - 1 m), maka kestabilan kapal akan terganggu sehingga perlu kewaspadaan lebih dalam pelayaran. Artinya kapal nelayan dengan kapasitas 10GT tidak disarankan melaut atau menempuh tinggi gelombang di atas 1m.

Gambar 1 Peta proyeksi bahaya keselamatan bagi kapal dengan kapasitas di bawah 10 GT (Sumber: Kaji Ulang RAN API, 2018)

Untuk menghadapi potensi bahaya pelayaran tersebut, paling tidak kapal harus memiliki kecepatan dan kemampuan yang baik untuk menahan angin dan gelombang tinggi dengan konstruksi kapal yang kuat. Apabila di masa mendatang nelayan Indonesia tidak mengalami peningkatan kapasitas kapal, maka ada ancaman terganggunya perekonomian sektor perikanan tangkap. Dalam hal ini, nelayan kecil terancam akan kehilangan mata pencaharian atau alih profesi, menurunnya jumlah tangkapan ikan yang akan berdampak pada perubahan pada harga jual ikan laut.

Untuk menjawab tantangan ini dibutuhkan kebijakan dan strategi yang lebih komprehensif, baik struktural maupun non-struktural, misalnya pengaturan zonasi wilayah laut, peningkatan kapasitas kapal, penguatan perekonomian rumah tangga nelayan melalui penguatan koperasi nelayan, akses pendidikan dan kesehatan, dan lain sebagainya. Sebagaimana diketahui sektor ini berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-14, sehingga dibutuhkan peran peran proaktif dari berbagai pihak.


Penulis: Pramudita Mahyastuti

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu