Melihat Potensi Tinggi Gelombang Laut Indonesia Masa Depan

access_timeJun 10, 2019

Tahukah kamu? Indonesia memiliki wilayah perairan laut seluas kurang lebih dari 6,3 juta km2. Dari sekian luasnya perairan kita, proyeksi tinggi gelombang yang dihadapi oleh para pelaut baik nelayan maupun nahkoda yang menghubungkan antar titik pelabuhan menjadi informasi yang bermanfaat untuk persiapan dini dalam menghadapi kondisi laut di masa mendatang.

Dengan adanya cuaca ekstrem yang mengakibatkan musibah pelayaran seperti yang baru-baru ini terjadi (http://bit.ly/cuaca_ekstrem), upaya adaptasi perlu didorong untuk mengantisipasi dan meningkatkan keselamatan dan keamanan pelayaran. Dalam hal ini, peran BMKG sebagai pemangku penyebarluasan informasi dini cuaca ekstrem dan Kementerian Perhubungan sebagai penerbit Maklumat Pelayaran dan sangatlah penting. Sementara itu, Kementerian PPN/ Bappenas melihat kebutuhan tersebut dengan mengolah hasil kaji ulang RAN API untuk menghimpun strategi dari K/L terkait sehingga dapat tersusun kebijakan yang adaptif dan resilien terhadap ancaman gelombang tinggi dan ekstrem yang dapat mengganggu aktivitas sektor pelayaran dan perikanan.

Salah satu fokus basis ilmiah dalam kaji ulang RAN API adalah untuk mendapatkan informasi proyeksi ancaman gelombang tinggi dan ektrem sampai tahun 2045 terhadap keselamatan pelayaran, khususnya terhadap jalur perlintasan kapal PELNI dan jalur tol laut (informasi tersebut bisa dilihat di http://sekretariat-ranapi.org/basis-ilmiah pada bagian sektor kelautan). Melalui peta berbasis ilmiah tersebut, luas dan lokasi perairan dengan gelombang tinggi dapat diketahui dan dapat dimanfaatkan sebagai basis informasi dalam perumusan kebijakan, strategi serta program yang dapat menunjang keselamatan pelayaran. Proyeksi luas perairan Indonesia berdasarkan tinggi gelombang menggunakan periode 2006 hingga 2045 dapat disimpulkan dalam grafik berikut

:

Sumber: Kaji Ulang RAN API Sektor Kelautan, 2018

Tinggi gelombang lebih dari 3 m akan semakin banyak dijumpai di pesisir selatan Pulau Jawa, NTB, NTT dan pesisir barat Pulau Sumatera, serta pesisir bagian utara Kepulauan Riau dan Maluku Utara. Meskipun demikian, jika peta proyeksi tinggi gelombang ditumpangsusunkan dengan jalur PELNI dan tol laut, keduanya akan melintasi perairan dengan tinggi gelombang yang berkisar antara 1-3 m.

Perubahan iklim yang ditunjukkan dengan perubahan variabilitas iklim dan kemudian memicu cuaca ekstrem menyebabkan terjadinya kenaikan tinggi gelombang laut. Kondisi ini dapat menyebabkan kehilangan dan kerugian masyarakat terdampak dan tentunya dapat menghambat pembangunan nasional. Oleh karena itu, tindakan yang tepat perlu dijalankan, khususnya di sektor kelautan dan masyarakat pada umumnya yang terdampak secara langsung dan tidak langsung sehingga dapat beradaptasi dengan ancaman perubahan tinggi gelombang tersebut.


Penulis: Pramudita Mahyastuti

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu