Hari Meteorologi Dunia | Matahari, Bumi, Cuaca Untuk Keselamatan dan Kesejahteraan

access_timeMar 22, 2019

Peringatan Hari Meteorologi Dunia, 23 Maret 2019: Matahari, Bumi, Cuaca Untuk Keselamatan dan Kesejahteraan

Perubahan Musim di Indonesia

Bumi menerima radiasi matahari yang merupakan sumber energi utama untuk menjalankan kehidupan di dalamnya. Penerimaan radiasi matahari tidak sama pada lokasi dan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan posisi bumi terhadap matahari dan rotasi bumi. Perbedaan penerimaan radiasi dan topografi bumi yang beragam, menggerakan terbentuknya cuaca dan iklim. Pergerakan bumi mengelilingi matahari atau revolusi bumi dalam posisi kemiringan 23.5C terhadap ekliptika menyebabkan perbedaan wilayah pemanasan matahari yang mendorong terbentuknya musim (Caesar, 2014) seperti yang diilustrasikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Ilustrasi Pengaruh Revolusi Bumi Terhadap Pergantian Musim (sumber: geography.name)

Musim di Indonesia terbagi dalam musim penghujan dan musim kemarau yaitu musim kemarau pada April-Oktober dan musim penghujan pada Oktober-April. Perubahan musim sangat berpengaruh bagi aktivitas kehidupan masyarakat di Indonesia, misalnya pada bidang pertanian terutama tanaman pangan padi. Padi merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2017, konsumsi beras di Indonesia mencapai 30 juta ton (BPS).

Padi biasa disemai pada awal musim penghujan karena memerlukan banyak air dalam pertumbuhan dan pembentukan buahnya. Sementara itu, untuk pengisian dan pematangan biji, padi membutuhkan pemanasan matahari yang banyak, sehingga, mendekati waktu panen, sawah dikeringkan. Waktu tanam padi dari mulai semai hingga panen, biasanya berlangsung selama 120 hari, atau dapat lebih pendek pada padi berumur genjah, seperti varietas M400 dan varietas M70D yang memiliki umur tanam 70-85 hari.

Perubahan iklim yang dapat berupa peningkatan suhu udara dan perubahan pola serta intensitas curah hujan sangat berpengaruh pada penanaman padi. Berkurangnya curah hujan, pemendekan musim penghujan, dan pola musiman hujan yang berubah berdampak pada penyediaan kebutuhan air dan pertumbuhan biomassa padi. Pada sawah irigasi, ketidakpastian dari faktor curah hujan dapat diatasi melalui pengairan yang intensif selama pertumbuhan padi. Namun, pengeringan sawah tidak dapat dilakukan apabila curah hujan tiba-tiba tinggi, sehingga menyebabkan puso atau padi yang tidak bernas dan terjadi kegagalan panen. Pada awal Maret 2019, diberitakan bahwa 205 Ha lahan pertanian padi dan palawija di 12 Kecamatan Tulungagung mengalami puso akibat terendam banjir.

Untuk mempertahankan ketersediaan pangan, terutama bahan makanan pokok di Indonesia yaitu beras dapat dilakukan penyusunan kalender tanam yang disesuaikan dengan iklim dan cuaca. Kalender tanam merupakan salah satu langkah preventif untuk kembali menyesuaikan musim tanam padi dengan kebutuhan hujan dan pemanasan. Dalam penyusunan kalender tanam ini, prediksi hujan dan kemarau dengan kualitas yang baik sangat diperlukan. Peningkatan metode dan teknologi proyeksi cuaca dan iklim yang mumpuni menjadi penting. Berbagai model prediksi iklim dan cuaca telah dikembangkan dan dimanfaatkan di berbagai negara di dunia.

RAN API melalui BMKG telah memanfaatkan model iklim untuk menghasilkan prediksi curah hujan dan temperatur. Hasil kaji ulang RAN API tahun 2018, yaitu Proyeksi Iklim Atmosferik, menunjukkan bahwa terdapat perubahan curah hujan pada periode proyeksi 2020-2035. Perubahan curah hujan ditandai dengan peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Indonesia pada musim penghujan dan penurunan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia pada musim kemarau. Namun, secara umum, terdapat perubahan curah hujan sebesar 2.5 mm/hari (Gambar 2).

Gambar 2. Proyeksi Perubahan Curah Hujan Harian di Indonesia Periode 2020-2034 terhadap periode historis 1990-2005 menggunakan model ensembel dengan skenario RCP4.5

Hasil prediksi curah hujan dan temperatur analisis CORDEX yang disediakan oleh BMKG seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 dapat dimanfaatkan sebagai informasi penting dalam merumuskan awal musim tanam komoditas-komoditas pangan di Indonesia, serta mengantisipasi penyediaan kebutuhan air melalui irigasi. Kalender tanam telah rutin disusun oleh Kementerian Pertanian dan disosialisasikan kepada petani-petani di seluruh Indonesia untuk beradaptasi terhadap perubahan musiman curah hujan dalam pemanfaatannya pada sektor pangan.

Gambar 3. Ilustrasi Tanaman Padi yang Subur

Berdasarkan analisis di tingkat global, peningkatan suhu perubahan curah hujan akan terus terjadi akibat adanya keragaman atau variabilitas iklim dan perubahan iklim. Selain itu, hasil kaji ulang RAN API juga menunjukkan terjadinya penurunan produksi padi pada proyeksi periode 2020-2035 oleh faktor iklim yaitu curah hujan dan temperatur. Dalam menghadapi berbagai ancaman iklim ini, perlu dilakukan langkah adaptasi terutama pada sektor pertanian. Peningkatan kemampuan prediksi iklim dan cuaca perlu dikembangkan untuk menyediakan hasil prediksi curah hujan dan suhu dengan akurasi tinggi untuk dimanfaatkan dalam penyusunan kalender tanam. Penyediaan informasi dan prediksi iklim dan cuaca juga perlu ditingkatkan sehingga dapat menyasar hingga tingkat Kabupaten/ Kota. Selain sektor tanaman pangan prediksi iklim dan cuaca dengan akurasi tinggi, juga sangat diperlukan oleh sektor lainnya dalam rangka upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

Peringatan hari Meteorologi sedunia pada tanggal 23 Maret 2019 ini, dapat dijadikan sebagai momentum untuk kembali meningkatkan semangat dalam (1) membaca dan mempelajari perubahan yang terjadi di alam terutama cuaca, iklim, dan pola musimannya; (2) memanfaatkan dan mengembangkan teknologi peramalan cuaca dan prediksi iklim dengan akurasi yang semakin tinggi; dan (3) mengupayakan langkah-langkah adaptasi untuk menghadapi dampak-dampak dari perubahan iklim terutama pola musimannya.


Penulis: Swari Farkhah Mufida

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu