Hari Kesiapsiagaan Bencana | Pentingnya Pengembangan Sistem Peringatan Dini Multibencana (MHEWS) Hidrometeorologi di Indonesia

access_timeApr 25, 2019

Perubahan iklim akan mempengaruhi berbagai interaksi komponen di alam, termasuk meningkatkan kejadian bencana yang dipengaruhi oleh iklim ataupun bencana hidrometeorologi. Sekitar 75% bencana alam di Indonesia selama tahun 1990-2016 merupakan bencana yang terkait dengan iklim yaitu 31% banjir, 20% badai, 16,5% longsor, dan 8% kekeringan. Untuk mengantisipasi dampak buruk berbagai bencana yang terjadi, sistem peringatan dini sangat penting untuk dikembangkan.

Selama ini BMKG terus memberikan update informasi perkembangan kondisi cuaca untuk mengantisipasi bencana. BPPT memiliki inovasi teknologi instrumentasi kebencanaan untuk mendukung pemberian peringatan dini pada daerah bencana seperti LEWS (Landslide Early Warning System) dan FEWS (Flood Early Warning System). Lapan juga mengembangkan sistem Satellite-based disaster early warning system (SADEWA), dan pengembangan-pengembangan ilmu dan teknologi terkait kebencanaan di institusi-institusi lainnya.

Pengelolaan terpadu sistem peringatan dini dibentuk untuk mengintegrasikan berbagai teknologi dan inovasi yang dikembangkan. BNPB mengakomodasi integrasi tersebut melalui design sistem peringatan dini multihazard hidrometeorologi (mhews.bnpb) yang dapat memprediksi bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Namun, saat ini masih terbatas untuk pemanfaatan di internal BNPB. Prediksi kebencanaan hidrometeorologi ini diolah dari sumber data inaRISK BNPB, BMKG, PUPR, ESDM, BPPT, LAPAN, dan ITB. Prediksi ini merupakan hasil tumpang susun peta indeks kebencanaan hidrometeorologi dari inaRISK dan prediksi cuaca menggunakan Weather Research and Forecasting (WRF). Indikasi potensi bencana hidrometeorologi memiliki resolusi spasial 100 m, yang dikategorikan dalam 4 status. Sistem ini memiliki prediksi bencana dinamis setiap 3 jam yang diikuti dengan peringatan pada kondisi darurat, dan disampaikan melalui pemberitahuan kepada pengguna untuk memudahkan identifikasi kejadian bencana hidrometeorologi.

Gambar 1. Ilustrasi Pengelolaan terpadu sistem peringatan dini (sumber: WMO)

Untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan terpadu bencana, selain pengembangan sistem MHEWS, penguatan koordinasi dan peran dari berbagai institusi terkait merupakan hal yang sangat penting. Kepemilikan bersama produk MHEWS ini mengikat komitmen dari masing-masing institusi untuk meningkatkan kontribusinya. BMKG selaku otoritas layanan penyediaan informasi cuaca perlu meningkatkan kemampuan prediksi dan mempermudah akses pemanfaatannya. Kementerian dan lembaga yang berperan dalam pengembangan inovasi dan teknologi seperti BPPT, LAPAN, LIPI, dan Balai penelitian perlu meningkatkan kemampuan alat dan fasilitas yang dibuatnya untuk diintegrasikan dalam MHEWS yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas.

Sistem peringatan dini multibencana terpadu yang dikembangkan dengan teknologi tinggi dan koordinasi yang baik antar lembaga pemerintahan, swasta, dan masyarakat, dapat mempercepat pencapaian peningkatan ketahanan daerah dan nasional terhadap bencana, terutama bencana hidrometeorologi.


Penulis: Swari Farkhah Mufida

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu