Hari Kesehatan Dunia | Perubahan Iklim dan Ancaman DBD di Indonesia

access_timeApr 07, 2019
Ilustrasi: Ancaman Nyamuk Terhadap Manusia
Peringatan Hari Kesehatan Se-Dunia, 7 April 2019

Perubahan iklim yang ditandai dengan peningkatan temperatur dan perubahan curah hujan secara langsung maupun tidak langsung juga berpengaruh pada kesehatan. Pada peralihan musim antara musim penghujan dan kemarau atau yang sering disebut dengan pancaroba, dikenal sebagai musim dimana kejadian penyakit di masyarakat meningkat. Suhu dan kelembaban yang berubah-ubah tidak menentu selama musim peralihan, ditambah kondisi kekebalan tubuh yang kurang prima, seringkali menimbulkan penyakit.

Lain halnya ketika musim hujan terjadi, curah hujan yang tinggi menyebabkan genangan di berbagai tempat dan mengisi penampungan-penampungan air. Daerah tergenang dan tampungan air yang tidak diperhatikan kebersihannya, akan menjadi tempat perkembangbiakan berbagai bakteri dan virus penyebab penyakit seperti diare, leptospirosis, penyakit kulit, dan lain sebagainya. Selain itu, limpasan air hujan yang melewati pembuangan sampah dapat mencemari sumber-sumber air masyarakat yang apabila dikonsumsi dapat mengganggu kesehatan. Selain timbulan penyakit akibat bakteri dan virus, pada kondisi suhu dan kelembaban tinggi saat musim hujan, juga memungkinkan meningkatnya perkembangbiakan dan populasi vektor-vektor pembawa penyakit seperti nyamuk Aedes aegypti yang merupakan pembawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah, virus demam kuning, cikungunya, dan virus zika.

Hasil kaji ulang RAN API tahun 2018, menunjukkan adanya kesesuaian antara iklim dengan jumlah kejadian penyakit DBD. Pada kondisi suhu dan curah hujan tinggi, terdapat peningkatan kejadian DBD pada daerah-daerah yang diidentifikasi. Perubahan iklim dapat menyebabkan peningkatan kejadian luar biasa DBD, yaitu timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian akibat DBD pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Kajian Bahaya Perubahan Iklim Sektor Kesehatan RAN API pada tahun 2018, juga menunjukkan adanya peningkatan indikatif kejadian DBD di Indonesia berdasarkan analisis proyeksi iklim pada periode 2020-2034. Beberapa daerah mengalami peningkatan status indikatif DBD dari yang sebelumnya berstatus sedang menjadi tinggi.

Gambar 1. Perbandingan indikatif kejadian DBD pada periode proyeksi 2020-2034 terhadap periode 2006-2016 (sumber: Kaji Ulang RAN API, 2018)

Dari tahun 2014 hingga 2018 telah terdampak 555.6 ribu penderita DBD di seluruh Indonesia. Menurut data dari Kementerian Kesehatan, hingga tanggal 3 Februari 2019, jumlah kasus DBD tahun 2019 telah mencapai 13.6 ribu kejadian dengan jumlah penderita yang meninggal dunia sebanyak 133 jiwa. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah, mengingat saat ini, demam berdarah diantisipasi tidak hanya menyerang di musim hujan saja, tetapi juga di musim kemarau.

Ditemukannya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di berbagai daerah dikhawatirkan akan menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan dan penurunan risiko kejadian DBD. Berbagai kegiatan seperti peningkatan sanitasi dan akses air bersih, perawatan tampungan-tampungan air, pengurangan jumlah genangan, peningkatan kebersihan rumah dan lingkungan, pengendalian jumlah populasi nyamuk melalui pemberian obat dan fogging merupakan berbagai upaya pencegahan dan penurunan risiko DBD.

Gambar 2. Hasil Identifikasi Kesesuaian Iklim dan DBD

Peningkatan fasilitas kesehatan terutama penanganan DBD juga perlu dilakukan untuk mengatasi kejadian luar biasa DBD. Banyaknya penderita DBD yang membutuhkan penanganan pada saat kejadian luar biasa, apabila tidak diwaspadai dengan pelayanan kesehatan yang memadai, dapat mengakibatkan keterlambatan penanganan dan kualitas pelayanan yang kurang baik. Oleh karena itu, fasilitas layanan kesehatan diimbau perlu waspada pada saat DBD mewabah dan segera memikirkan kemungkinan meningkatnya jumlah penderita DBD dan memperhatikan pola penambahan kasus.

Langkah adaptasi perubahan iklim pada sektor kesehatan dengan melibatkan parameter iklim seperti suhu dan curah hujan pada penanganan wabah penyakit DBD merupakan salah satu langkah maju penanganan dampak perubahan iklim dan kesehatan. Antisipasi wabah dan pola penambahan kasus DBD dapat diidentifikasi dari analisis perubahan suhu dan curah hujan yang berkaitan dengan kondisi perkembangbiakan populasi vektor nyamuk aedes aegypti. Selain itu, melalui identifikasi lokasi dan periode wabah tersebut, juga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan untuk menekan bahkan mengurangi populasi vektor pembawa penyakit DBD yang lebih tepat sasaran.


Penulis: Swari Farkhah Mufida

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu