Hari Biodiversitas Dunia | Adaptasi Berbasis Ekosistem di Wilayah Pesisir

access_timeMay 28, 2019

Memperingati Hari Biodiversitas Dunia | 22 Mei 2019


Pendekatan ekosistem dalam adaptasi perubahan iklim atau yang dikenal dengan istilah adaptasi berbasis ekosistem adalah kegiatan pengelolaan ekosistem dalam skala luas seperti penggunaan biodiversitas dan jasa ekosistem sebagai bagian dalam strategi adaptasi untuk meningkatkan ketahanan dan mengurangi kerentanan lingkungan serta masyarakat terhadap perubahan iklim (sumber: iucn.org). Pelaksanaan adaptasi berbasis ekosistem misalnya pada program pertanian berkelanjutan, manajemen sumber daya air terpadu, dan manajemen hutan berkelanjutan.

Gambar. Ilustrasi Konsep Adaptasi Berbasis Ekosistem (sumber: iucn.org)

Melalui adaptasi berbasis ekosistem, dapat sekaligus diperoleh keuntungan di bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan, disamping meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim. Salah satu keuntungan bersama dari kegiatan adaptasi berbasis ekosistem adalah restorasi mangrove untuk mengurangi dampak abrasi di daerah pesisir. Penggunaan mangrove untuk melindungi daerah pesisir dari ancaman abrasi yang meningkat karena perubahan iklim, dapat sekaligus mempertahankan kualitas ekosistem pesisir, meningkatkan produktivitas perikanan di sekitar pantai, dan pemberdayaan masyarakat pesisir, selain itu, biaya yang diperlukan lebih ekonomis dibanding pembangunan infrastruktur keras pelindung pantai. Kombinasi bangunan pelindung pantai dan konservasi mangrove juga dapat dilakukan untuk menciptakan strategi adaptasi yang lebih berkelanjutan.

Adaptasi berbasis ekosistem di wilayah pesisir Indonesia, diantaranya dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Wetlands International mulai September 2015 hingga Juli 2020, melalui program Building with Nature yang berlokasi di Jawa Tengah. Hingga Mei 2019, kegiatan ini telah mampu memberdayakan 10 kelompok masyarakat dari 9 desa di pantai utara Demak dan mengembalikan fungsi dari mangrove di daerah tersebut. Program tersebut juga memiliki kegiatan edukasi budidaya perikanan yaitu Sekolah Lapang Pesisir di 400 Ha lahan yang sukses meningkatkan produktivitas perikanan dan pendapatan masyarakat secara signifikan (sumber: international-climate-initiative.com).

Implementasi adaptasi berbasis ekosistem untuk meningkatkan ketangguhan daerah pesisir terhadap dampak perubahan iklim seperti yang diuraikan sebelumnya, dapat diinisiasi maupun ditingkatkan di wilayah pesisir rentan lainnya di Indonesia. Tingkat kerentanan pesisir dapat dilihat dari nilai coastal vulnerability index (CVI) yang dikategorikan dalam 5 tingkat CVI 1-5, dari tingkat kerentanan sangat rendah hingga sangat tinggi. Berdasarkan Kaji Ulang RAN API tahun 2018, pesisir yang memiliki tingkat kerentanan sangat tinggi (CVI 5) diantaranya di pesisir barat Aceh dari Calang sampai Meulaboh, pesisir di perbatasan Kabupaten Pesisir Selatan – Sumatera Barat dan Kabupaten Muko-Muko – Bengkulu, pesisir selatan Jawa Tengah, pantai di daerah Wates – Yogyakarta, pantai di daerah Lumajang – Jawa Timur, Jeneponto – Sulawesi Selatan, dan pulau-pulau kecil di Laut Flores.

Sebaran tingkat kerentanan pesisir yang dapat dijadikan sebagai lokasi pengembangan adaptasi berbasis ekosistem dapat dilihat pada tautan berikut ini http://sekretariat-ranapi.org/basis-ilmiah bagian Kerentanan Pesisir.


Penulis: Swari Farkhah Mufida

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu