Hari Air Sedunia 2019 | Leaving No One Behind

access_timeMar 21, 2019

Apa itu Hari Air Sedunia?

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusung tema “Leaving No One Behind” di tahun 2019. Hal ini tentunya menjadi cerminan bahwa di tingkat global, masih banyak golongan masyarakat yang kesulitan untuk memperoleh akses air bersih. Berbagai lembaga pendidikan dan usaha baik pertanian dan industri pun perlu berjuang agar aktivitasnya tetap berkelanjutan. Tanpa air, maka keberlangsungan hidup dapat terganggu, bahkan dapat terhenti.

Bagaimanakah dengan kondisi air di Indonesia?

Permasalahan air di Indonesia hingga 2019 ini masih menjadi topik hangat yang selalu menarik perhatian. Bagaimana tidak, terget pencapaian 100% untuk memenuhi akses air minum yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 masih belum terpenuhi. Hingga 2017 lalu, Indonesia baru mencapai angka 72.04%. Tentunya dengan demikian, maka pengkajian terhadap strategi yang disusun untuk mencapai target perlu dioptimalkan, mengingat air minum adalah layanan dasar dan hak asasi warga negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah.

Di Indonesia, permasalahan tidak berhenti pada hal-hal yang bersifat teknis, namun juga regulasi, kelembagaan dan pendanaan yang meliputi sumber air, transmisi dalam pendistribusian, pengolahan, offtake hingga pada penggunaannya. Sebagai contoh, pemanfaatan air baku lintas wilayah masih terkendala oleh regulasi, sebagaimana adanya kepentingan terhadap air baku yang terjadi pada proses pemekaran wilayah. Penggunaan air yang didistribusikan melalui pipa juga memiliki tantangan dan kendala tersendiri, mengingat medan dan elevasi Indonesia yang beragam. Di perkotaan, dengan medan yang relatif seragam pun memiliki tantangan, yaitu ketika dilakukan perbaikan jalan. Tak heran jika masih banyak keluhan dari masyarakat maupun dari pihak perusahaan penyedia air minum terkait kerugian yang ditimbulkan oleh non-revenue water (NRW) karena pengendalian terhadapnya belum menjadi prioritas.

Masyarakat merupakan subyek penting agar pemanfaatan air dapat berlangsung dengan bijak dan tepat. Dengan adanya tingkat urbanisasi yang tinggi, kerja sama antara masyarakat dengan pemangku wilayah untuk pembangunan infrastruktur PDAM menjadi solusi untuk efektifitas pemenuhan kebutuhan air. Selain itu juga diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat dalam penghematan air sehingga sumber air dapat termanfaatkan secara efisien.

Pada periode RPJMN Tahap IV 2020-2024, penyediaan air bersih dan sanitasi bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali menjadi perhatian pemerintah. Dalam perencanaan pembangunan, hal ini berjalan sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan ke-6 (SDG 6). Tujuan ke-6 ini tercermin dalam rancangan dokumen RPJMN 2020-2024 yang bermuatan KLHS. Dalam pemodelan KLHS yang disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas, air bersih dan sanitasi memiliki hubungan kausalitas antara air, populasi penduduk, ekonomi, dan tata guna lahan. Dengan demikian, maka pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi yang semakin pesat dapat diimbangi oleh daya dukung lingkungan.

Kebutuhan akan air yang semakin meningkat tentunya perlu mempertimbangkan ketersediaan yang dapat diberikan dari aspek lingkungan. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam isu ketersediaan air adalah perubahan iklim. Perubahan iklim dapat memberikan dampak pada penurunan ketersediaan air yang dipicu oleh adanya perubahan pola dan intensitas curah hujan. Hasil kajian prediksi iklim dekadal dari kaji ulang RAN API 2018 mengindikasikan kejadian ekstrem terkait dampak bencana hidrometeorologis, baik ekstrem basah maupun ekstrem kering. Hal ini diperkuat dengan hasil kajian bahaya perubahan iklim pada sektor air, yaitu Indonesia diproyeksikan akan mengalami penurunan ketersediaan air, khususnya di wilayah Sumatera bagian utara, Jawa-Bali dan Nusa Tenggara.

Bencana yang mungkin timbul dari kejadian ekstrem basah adalah banjir dan longsor. Mengatasi bencana ini bukanlah hal yang mudah, namun menjadi kebutuhan prioritas untuk menjamin keselamatan masyarakat di masa mendatang. Bendungan kering Sukamahi dan Ciawi di Jawa Barat yang dibangun oleh Kementerian PUPR merupakan contoh konkret untuk antisipasi akan adanya banjir di DKI Jakarta.

Di sisi lain, permukiman yang padat, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan yang buruk dan tingkat urbanisasi yang tinggi berpengaruh terhadap penyebaran DBD dan peningkatan kasus kejadian DBD. Pada akhirnya, tak hanya lingkungan yang mengalami perubahan, namun juga manusia yang tinggal di dalamnya. Meskipun pada dasarnya, masyarakat memiliki kemampuan untuk bertahan dan beradaptasi dalam situasi yang terdesak.

Menyelesaikan permasalahan air membutuhkan kerja sama lintas sektor yang didukung dengan kebijakan yang tepat. Sebagai negara yang memberikan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, maka sepatutnya rakyat mendapatkan kehidupan yang layak. Terlebih lagi, Indonesia berperan penting dalam menahan laju perubahan iklim dengan memanfaatkan kekayaan alam secara berkelanjutan. Jadi, tidak ada di dalam kamus kita bahwa Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup, yaitu air.


Penulis: Pramudita Mahyastuti

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu