Dampak Kemarau, Ribuan Hektar Lahan Pertanian di Dua Lokasi Percontohan RAN API Dilanda Kekeringan Ekstrem

access_timeJul 09, 2019

BMKG (2019) memprakirakan 96 dari 342 Zona Musim di Indonesia akan mengalami musim kemarau pada bulan Juni, serta sebanyak 25 Zona Musim di bulan Juli, 14 Zona Musim di bulan Agustus, 2 Zona Musim di bulan September, dan 1 Zona Musim di bulan Oktober. Puncak musim kemarau ini diprakirakan akan berlangsung pada periode Juli-Agustus di Pulau Jawa. Sementara, di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara akan terjadi di bulan Agustus sampai September.

Berdasarkan prediksi curah hujan per bulan sepanjang tahun 2019, maka Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan menjadi wilayah yang sangat kering di bulan Mei-Juli, yaitu curah hujan <60 mm/bulan. Di bulan Agustus-Oktober, wilayah yang sangat kering akan terjadi di sebagian Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Kementerian Pertanian, 2019). Namun, dari prediksi curah hujan secara keseluruhan untuk bulan Mei-Oktober, nampak Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi wilayah yang sangat kering selama Musim Kemarau.

Sementara itu, BMKG melalui pantauannya terhadap curah hujan harian hingga tanggal 20 Juni 2019 dan prakiraan curah hujan sangat rendah (<20 mm/10 hari) menunjukkan adanya potensi bencana kekeringan di beberapa wilayah Indonesia dengan status AWAS hingga SIAGA. Status AWAS, yaitu mengalami hari tanpa hujan (HTH) >61 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20mm/dasarian pada 20 hari mendatang >80%, terdapat di sebagian besar Yogyakarta, Jawa Timur (Sampang dan Malang), Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat (Indramayu), dan Bali (Buleleng). Status SIAGA, yaitu mengalami HTH >31 hari dan prospek peluang curah hujan rendah <20mm/dasarian pada 20 hari mendatang >80%, terjadi di Jakarta Utara, Banten (Lebak dan Tangerang), Nusa Tenggara Barat, dan sebagian besar Jawa Tengah.

Sumber: Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi – Kementerian Pertanian, 2019

Dikutip dari RRI dan CNN Indonesia, ribuan hektar lahan pertanian di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur, sebagai dua lokasi proyek percontohan RAN API, mengalami bencana kekeringan dan sebagian hektar tanaman padi terancam puso hingga dipastikan gagal panen. Di Provinsi Jawa Barat, sebanyak 8.644 hektar lahan pertanian mengalami bencana kekeringan dan Kabupaten Indramayu menjadi yang paling parah karena 1.456 hektar lahan pertanian tidak menerima pasokan air. Sedangkan, di Provinsi Jawa Timur, hasil wawancaranya dengan Kementerian Pertanian, CNN Indonesia mencatat ada sebanyak 5.069 hektar lahan pertanian mengalami gagal panen akibat musim kemarau. Luasnya lahan pertanian yang mengalami bencana kekeringan ini dapat berakibat pada menurunnya produktivitas padi, baik secara nasional maupun daerah.

Guna mencegah terjadinya penurunan produktivitas padi, Kementerian Pertanian telah menyampaikan data dan informasi lokasi-lokasi lahan pertanian yang dapat ditanami padi selama Musim Kemarau tahun 2019. Untuk bulan Juli hingga September, luas lahan sawah yang dapat ditanami padi adalah 5.169.583 Hektar di seluruh provinsi dengan Provinsi Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur adalah yang terluas.

Sumber: Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi – Kementerian Pertanian, 2019)

Sebagai upaya adaptasi saat musim kemarau dan pencegahan penurunan produktivitas padi, para petani melakukan penyesuaian waktu tanam padi yang didasarkan pada sistem informasi kalender tanam terpadu (KATAM), yaitu waktu tanam menjadi lebih mundur saat kemarau. Sistem informasi kalender tanam terpadu (KATAM) adalah alat bantu yang dapat memberikan informasi tentang prediksi iklim, waktu tanam, dan pola tanam tanaman pangan berdasarkan 3 skenario iklim (El Nino, normal, dan La Nina). Akan tetapi, pemunduran waktu musim tanam ini ternyata berakibat pada terlambatnya waktu panen padi.

Di samping upaya adaptasi tersebut, saat mengikuti kegiatan workshop kebijakan adaptasi perubahan iklim tempo hari, Kementerian Pertanian mengungkapkan adanya strategi untuk mengatasi masalah kekeringan lahan pertanian. Upaya ini antara lain penyesuaian sistem usaha tani melalui sistem budidaya hemat air (intermitten), tanam jajar legowo, System of Rice Intensification (SRI), pengembangan dan penerapan varietas tanaman adaptif kekeringan dan rendaman air, pemanenan air, dan mengatur pola tanam. Selain Kementerian Pertanian, BPPT juga telah mengembangkan teknologi modifikasi cuaca untuk mengatur curah hujan di beberapa wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem dan membutuhkan pasokan air terutama pada lahan-lahan pertanian.


Penulis: Mega Sesotyaningtyas

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu