Hari Bumi Sedunia 2019 | Ancaman Keberlangsungan Keanekaragaman Hayati Akibat Perubahan Iklim

access_timeApr 22, 2019
Sumber foto: Marine Cloud Brightening for the Great Barrier Reef

Bumi merupakan tempat tinggal berbagai spesies. Dalam jurnalnya di tahun 2011, Camilo Mora dari Universitas Hawaii dan Dr. Derek P. Tittensor, yang berkantor di UN Environment Programme’s World Conservation Monitoring Centre (UNEP WCMC) memperkirakan jumlah spesies di dunia mencapai 8,7 juta yang didominasi oleh hewan dan sebagian kecil jamur, tumbuhan, protozoa, dan chromist.

Hingga saat ini, International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mengumpulkan data dan informasi spesies untuk dikategorikan ke dalam Red List, yaitu kategori spesies yang terancam punah. Data spesies yang telah terkumpul mencapai kurang lebih 98 ribu dan masih terus ditambah dengan target penambahan di tahun 2020 mencapai 160 ribu spesies. Berdasarkan data yang sudah terkumpul, IUCN menyebutkan bahwa terdapat 27 ribu spesies yang terdiri dari amfibi, konifera, hiu dan pari, krustasea, mamalia, burung, dan terumbu karang yang terancam punah.

Dalam konteks perubahan iklim, Working Group II Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) bertugas untuk mengumpulkan dan mengolah data dan informasi yang berkaitan dengan dampak, adaptasi dan kerentanan yang di dalamnya termasuk kondisi keanekaragaman hayati secara global. Menurut laporan Working Group II IPCC AR5 tahun 2007, risiko kehilangan keanekaragaman hayati dipicu oleh adanya pemanasan global, cuaca ekstrem, kekeringan dan perubahan pola hujan. Potret risiko perubahan iklim yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati dideskripsikan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Risiko perubahan iklim pada keanekaragaman hayati (Sumber: IPCC AR5, 2007)

Dokumen tersebut diperkuat dengan terbitnya Special Report pada Oktober 2018 lalu, yaitu membatasi kenaikan suhu hingga 1,5ºC. Dampak yang dapat ditimbulkan dari pembatasan ini adalah menurunnya risiko kehilangan spesies lokal dibandingkan jika kenaikan suhu global masih pada batas 2ºC. Dengan kenaikan suhu 2ºC, estimasi penurunan angka spesies global mencapai 18% untuk serangga, 16% untuk tumbuhan, 8% untuk hewan vertebrata. Sedangkan jika dibatasi kenaikannya pada 1,5ºC, maka spesies terancam punah dapat diturunkan hingga 6% untuk serangga, 8% untuk tumbuhan, 4% untuk hewan vertebrata.

Perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya pergeseran kawasan keanekaragaman hayati ke wilayah iklim yang mirip dengan habitat aslinya. Dalam perencanaan pembangunan ke depan, keanekaragaman hayati telah dipertimbangkan sebagai salah satu proiritas penanganan dimana selaras dengan upaya pembatasan kenaikan suhu global hingga 1,5ºC. Meskipun metode yang digunakan masih perlu dikembangkan, namun hal ini merupakan cerminan bahwa Indonesia telah mengambil langkah untuk memperhatikan keanekaragaman hayati yang ada.


Penulis: Pramudita Mahyastuti

Editor: Kevin Simon, Putra Dwitama

menu
menu