Adaptasi Perubahan Iklim dalam RPJMN 2020-2024

access_timeMay 14, 2019
Penulis: Putra Dwitama | Editor: Kevin Simon

Indonesia sebagai negara yang berisiko terhadap dampak perubahan iklim dituntut untuk mampu dalam menyusun perencanaan adaptasi yang terukur dan dapat menjawab permasalahan. Melalui kaji ulang RAN API, semangat penyusunan perencanaan adaptasi yang lebih terukur dan terstruktur saat ini telah diwujudkan melalui pengadopsiannya di dalam dokumen Rancangan Teknokratis RPJMN 2020-2024.

Dalam hal ini, peran informasi risiko iklim pada sektor pembangunan serta wilayah seharusnya dapat menjawab pengembangan program atau aksi adaptasi yang climate proof dan secara pemrograman dapat dibedakan dengan program dan kegiatan reguler pembangunan yang dikerjakan oleh pemerintah setiap tahunnya. Sebagaimana di dalam sistem perencanaan dan penganggaran saat ini belum secara spesifik menyebutkan apa itu dan bagaimana program/kegiatan/aksi adaptasi dapat direncanakan dan diimplementasikan dengan baik, terukur dan dapat dimonitor. Kendala struktur program dan anggaran yang sudah baku menuntut para perencana harus jeli dan mampu mendefinisikan (melalui penandaan/ tagging) aksi adaptasi terkait pada sektor yang dinilai rentan dan berisiko. Namun dilain pihak akan menyulitkan para perencana itu sendiri jika aksi adaptasi tersebut belum memiliki target, sektor, dan program yang spesifik.

Berbeda dengan RPJMN sebelumnya, dimana isu adaptasi perubahan iklim merupakan isu lintas bidang dan mainstream pada sektor-sektor pembangunan, dimana hal ini juga yang menyulitkan untuk melacak implementasi dan capaian terkait adaptasi perubahan iklim. Dimana saat ini masih mengandalkan dokumen RAN API sebagai kriteria penandaan dan klaim keberhasilan implementasi adaptasi perubahan iklim. Sedangkan RPJMN saat ini, isu adaptasi perubahan iklim tidak hanya berada pada prioritas lintas bidang, namun juga berada dalam Bab tersendiri di dalam Prioritas Pembangunan Lingkungan Hidup, Ketahanan Bencana, dan Perubahan Iklim. Artinya jika telah ditetapkan menjadi prioritas nasional, isu ini telah memiliki target yang jelas, prioritas program dan kegiatan, serta pengalokasian anggarannya.

Konvergensi Adaptasi Perubahan Iklim dan Pengurangan Risiko Bencana

Konvergensi API-PRB di dalam RPJMN 2020-2024 terefleksikan melalui (a) kegiatan prioritas kebencanaan dan ketahanan iklim di dalam satu rumpun prioritas ketahanan bencana; (b) penggunaan nilai potensi kerugian ekonomi sebagai target pembangunan , khusus untuk adaptasi perubahan iklim, target yang telah ditetapkan adalah penurunan potensi kehilangan PDB sektor terdampak bahaya iklim (% terhadap PDB);

Prioritas pada Sektor Terdampak

Mengingat natur adaptasi yang kompleks, perlu ditetapkan prioritas melalui serangkaian penilaian sebagaimana juga yang telah disepakati sektor prioritas terdampak pada dokumen ICCSR tahun 2009. Penetapan sektor prioritas tersebut juga kemudian mendasari penyusunan kajian basis ilmiah, penentuan target pembangunan, hingga perumusan program dan anggaran adaptasi yang spesifik.

Peran RAN API dalam Penerjemahan RPJMN (dan sebaliknya)

RAN API tetap dijadikan sebagai acuan dalam implementasi kebijakan dan strategi Ketahanan Iklim yang tertuang di dalam RPJMN. Dimana dalam hal ini semakin mempertegas dokumen ini tetap dijadikan sebagai acuan bagi K/L, Pemerintah Daerah maupun pegiat adaptasi lainnya dalam perumusan program dan kegiatan yang selaras dan relevan.

Sebagai tindak lanjut, penyelesaian kaji ulang RAN API seperti revisi kerangka, kebijakan, strategi, dan aksi adaptasi nasional yang disertai dengan panduan bagi pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam proses pengintegrasiannya ke dalam perencanaan, penganggaran, dan monitoring dan evaluasi. Selain itu, perangkat analisis kebijakan yang perlu diperkuat seperti a) pemutahiran InaRisk untuk bisa mengeluarkan nilai potensi kerugian ekonomi akibat bencana hidrometeorologi di masa depan dengan memanfaatkan data proyeksi iklim, bahaya dan risiko iklim, dan b) penguatan SIDIK dalam memberikan informasi risiko iklim baik secara sektoral maupun wilayah.


  • Bab 7: Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024: Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana, & Perubahan Iklim dapat diakses melalui tautan berikut: http://bit.ly/Bab7RT-RPJMN
  • Profil potensi bahaya perubahan iklim di Indonesia dapat dilihat pada halaman tab Basis Ilmiah kaji ulang RAN API pada laman website Sekretariat RAN API
  • Target penurunan potensi kerugian ekonomi dengan menggabungkan kegiatan prioritas kebencanaan dan ketahanan iklim adalah sebesar 0.21% dari nilai PDB di tahun 2024
  • Dokumen RAN API dapat menjadi panduan K/L dalam perumusan program dan kegiatannya yang tidak menjadi prioritas di dalam RPJMN. Misalnya bahaya iklim untuk sektor Kesehatan di dalam RPJMN hanya mencakup jenis penyakit DB saja
  • Penyelarasan Renstra K/L dengan RPJMN yang telah mencantumkan adaptasi perubahan iklim sebagai salah satu prioritas nasional
menu
menu