Rencana Adaptasi Perubahan Iklim (RAN API)

Pemanasan global adalah fakta yang tak terelakkan lagi bagi seluruh penduduk bumi, tak terkecuali Indonesia. Selama dua dekade terakhir, fakta ilmiah membuktikan bahwa di Indonesia terjadi tren kenaikan temperatur permukaan, perubahan awal musim hujan, kenaikan suhu permukaan laut, kenaikan tinggi muka laut serta kejadian cuaca dan iklim ekstrem. Curah hujan dan suhu yang meningkat berdampak langsung pada menurunnya hasil pertanian yang berujung ke ketersediaan pangan. Adapun dari kenaikan suhu permukaan laut dan kenaikan tinggi muka laut, mereka menjadi ancaman besar bagi masyarakat pesisir. Masyarakat terancam akan ketersediaan air bersih, rusaknya infrastruktur pelabuhan hingga tenggelamnya pulau-pulau kecil. Belum lagi dampak kesehatan bagi masyarakat di pesisir dan dataran akibat perubahan cuaca ekstrem.

Dampak yang langsung menyentuh masyarakat itu secara otomatis mempengaruhi sistem pembangunan nasional. Maka diperlukan upaya ADAPTASI yang terencana dengan landasan ilmiah kuat, demi keberlanjutan pembangunan. Adaptasi sendiri adalah suatu respon terhadap stimulus atau pengaruh iklim nyata atau perkiraan yang dapat meringankan dampak buruknya atau memanfaatkan peluang-peluangnya yang menguntungkan. Pada manusia, adaptasi dapat bersifat antisipatif atau reaktif dan dapat dilaksanakan oleh sektor-sektor publik atau swasta (UNDP,2007). Adaptasi ini penting juga untuk mengurangi biaya ekonomi. Bank Dunia (2010) meramalkan bahwa kerugian ekonomi dari perubahan iklim bisa mencapai tujuh persen dari Pendapatan Domestik Bruto jika tidak segera dikendalikan.

Pemerintah lewat beberapa Kementerian/Lembaga sudah menyusun Rencana Aksi Adaptasi Perubahan Iklim. Namun belum sinergi dengan sektor lain. Pada februari 2014 lalu dimulailah pengarusutamaan adaptasi dalam pembangunan nasional dalam wujud Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API). RAN-API adalah dokumen yang disusun dalam jangka waktu 2013-2025 untuk membantu masyarakat dalam mempersiapkan upaya adaptasi atau penyesuaian terhadap dampak perubahan iklim yang terjadi. Naskah ini berisi masukan dari pemerintah, mitra pembangunan, organisasi kemasyarakatan dan praktisi lainnya dalam bidang adaptasi perubahan iklim. Dokumen RAN-API, kemudian diinklusikan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Pengejawantahannya menjadi dasar penyusunan program dan kegiatan pemerintah maupun praktisi lainnya yang responsif terhadap dampak perubahan iklim.

Secara Nasional, RAN API berada di bawah Tim Koordinasi Penanganan Perubahan Iklim, khususnya Kelompok Kerja Adaptasi. Kelompok Kerja ini bertanggung jawab dalam sinkronisasi rencana maupun implementasi program dan kegiatan terkait dengan adaptasi perubahan iklim sehingga mempunyai fokus dan lokus yang lebih terarah.

Tujuan RAN API

Tujuan pembuatan RAN-API adalah terselenggaranya sistem pembangunan yang berkelanjutan dan memiliki ketahanan (resiliensi) tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Rencana aksi ini mengkoordinasi kegiatan adaptasi dengan semua pemangku kepentingan yang terlibat, baik pemerintah, organisasi kemasyarakatan, masyarakat dan swasta serta lainnya. Sehingga tujuan adaptasi perubahan iklim yaitu membangun ketahanan ekonomi, ketahanan tatanan kehidupan, baik secara fisik, maupun ekonomi dan sosial, dan menjaga ketahanan ekosistem serta ketahanan wilayah khusus seperti pulau-pulau kecil untuk mendukung sistem kehidupan masyarakat yang tahan terhadap dampak perubahan iklim bisa tercapai.

Sasaran RAN API

Sasaran RAN API adalah membentuk sistem pembangunan adaptif yang mencakup

Ketahanan Ekonomi

Indikator

  • Ketahanan Pangan
  • Kemandirian Energi

Sistem Kehidupan

Indikator

  • Ketahanan Kesehatan
  • Ketahanan Pemukiman
  • Ketahanan Infrastruktur

Ketahanan Ekosistem

Indikator Masih Dalam Proses

 



Wilayah Khusus

Indikator

  • Ketahanan Infrastruktur dan Perkotaan
  • Ketahanan pesisir dan pulau-pulau kecil

Sistem Pendukung

Indikator Masih Dalam Proses